Raihan, Afnan (2025) ANTARA YANG DITERIMA DAN DIPERDEBATKAN : KONTESTASI TRADISI PANJANG MULUD DI KELURAHAN KEBONDALEM, KOTA CILEGON, BANTEN. Masters thesis, IIQ AN NUR YOGYAKARTA.

[thumbnail of COVER_DAFTAR ISI] Text (COVER_DAFTAR ISI)
21202075_COVER DAFTAR ISI.pdf - Published Version

Download (1MB)
[thumbnail of BAB I] Text (BAB I)
21202075_BAB I.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (329kB)
[thumbnail of BAB II] Text (BAB II)
21202075_BAB II.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (417kB)
[thumbnail of BAB III] Text (BAB III)
21202075_BAB III.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (499kB)
[thumbnail of BAB IV] Text (BAB IV)
21202075_BAB IV.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (521kB)
[thumbnail of BAB V] Text (BAB V)
21202075_BAB V.pdf - Published Version
Restricted to Registered users only

Download (226kB)
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA] Text (DAFTAR PUSTAKA)
21202075_DAFTAR PUSTAKA.pdf - Published Version

Download (209kB)
[thumbnail of LANPIRAN] Text (LANPIRAN)
21202075_LAMPIRANN.pdf - Published Version

Download (1MB)

Abstract

Tradisi Panjang Mulud yang berlangsung di Kelurahan Kebondalem, Kota Cilegon, Banten, bukan hanya perayaan keagamaan biasa, tetapi juga menjadi arena kontestasi sosial dan keagamaan di tengah masyarakat yang majemuk. Tradisi ini telah berlangsung lintas generasi dan melibatkan beragam pihak dengan latar belakang pemahaman keislaman yang berbeda. Dalam pelaksanaannya, muncul perbedaan pandangan antara kelompok (aktif) yang mendukung tradisi sebagai bentuk ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW, kelompok (pasif) yang menolaknya karena dianggap tidak berdasar pada sunnah Nabi, serta kelompok netral (adaptif) yang hanya mengikuti aspek spiritual seperti pengajian dan dzikir. Kontestasi ini menunjukkan adanya dinamika sosial yang kompleks dalam menafsirkan ajaran agama dan nilai budaya lokal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis lapangan (field research) dengan metode observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Teori praktik sosial Pierre Bourdieu menjadi pisau analisis utama, dengan fokus pada konsep habitus, modal (ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik), serta arena. Analisis ini diperkuat dengan pendekatan Living Qur’an, di mana masyarakat Kebondalem memaknai ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Ahzab ayat 56, sebagai dasar spiritual dalam melaksanakan tradisi ini. Resepsi masyarakat terhadap ayat tersebut beragam, mulai dari ekspresi cinta melalui arak-arakan hingga penghayatan nilai-nilai Nabi dalam kehidupan sehari-hari.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Panjang Mulud menjadi ruang negosiasi identitas keagamaan dan budaya lokal. Kelompok aktif mendominasi arena dengan berbagai bentuk modal dan strategi simbolik untuk melestarikan tradisi, sedangkan kelompok pasif menunjukkan resistensi dengan pendekatan skriptural. Kelompok adaptif memilih jalur kompromi demi menjaga harmoni sosial. Resepsi terhadap Al-Qur’an dalam tradisi ini membuktikan bahwa teks suci tidak hanya dihafal atau dibaca, tetapi juga dihidupi melalui praksis budaya yang dinamis. Tradisi Panjang Mulud, dalam konteks ini, menjadi wujud nyata dari praktik Living Qur’an sekaligus cermin hubungan dialektis antara agama, budaya, dan struktur sosial masyarakat.

Item Type: Thesis (Masters)
Uncontrolled Keywords: Panjang Mulud, Kontestasi, Pierre Bourdieu, Living Qur’an, Resepsi Al-Qur’an
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BP Islam. Bahaism. Theosophy, etc
Divisions: Fakultas Ushuluddin > Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Depositing User: Users 562 not found.
Date Deposited: 05 Aug 2025 06:54
Last Modified: 05 Aug 2025 06:54
URI: https://repository.nur.ac.id/id/eprint/1006

Actions (login required)

View Item
View Item